Friday, November 5, 2010

St Bertilla


Bertilla hidup pada abad ketujuh. Kisah hidupnya yang pertama muncul dalam bahasa Latin pada tahun 800. Ia dilahirkan di Soissons, Perancis. Semasa remaja, ia merasakan panggilan untuk hidup lebih dekat pada Tuhan. Ia mulai menyadari bahwa hidup doa dan kurban yang ia inginkan dapat ditemukan dalam biara. Ia pergi kepada Uskup, St Ouen, untuk mohon nasehat. Uskup mendorong Bertilla untuk mengikuti panggilannya. Orangtua Bertilla mengirimnya ke sebuah biara yang mengikuti peraturan seorang biarawan Irlandia, St Kolumbanus. Ketika tiba, Bertilla tahu bahwa ia telah menemukan damai. Tahun-tahun berlalu. Bertilla melewatkan waktunya dengan berdoa dan melakukan berbagai tugas. Ia teristimewa cakap dalam menawarkan keramah-tamahan kepada para pengelana dan mereka yang sakit yang datang ke biara. Ia juga bertanggung jawab atas anak-anak yang dididik di biara.

St Bathildis, isteri Raja Clovis II, mendirikan sebuah biara baru. Ia meminta kepada kepala biara di Soissons untuk mengirimkan beberapa biarawati guna memulai komunitas. Bertilla termasuk di antara mereka yang dipilih dan ia bahkan ditunjuk sebagai kepala biara. Bertilla amat terkejut; namun demikian ia memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Ia tahu bahwa Tuhan akan menolongnya di segala jalannya. Komunitas biarawati pun berkembang. Ratu Bathildis sendiri menjadi seorang biarawati setelah suaminya wafat. Kemudian, seorang ratu lain, Hereswitha, janda raja dari East Angles, menjadi seorang biarawati juga. Bertilla pastilah terperanjat mendapati dua ratu dalam komunitasnya. Tetapi semua orang hidup dalam damai sebab kedua ratu sama rendah hatinya dengan sang kepala biara. Bertilla menikmati umur panjang dan memimpin biara di Chelles selama empatpuluh enam tahun. Ia wafat sekitar tahun 705.

Marilah pada hari ini kita berdoa mohon hati yang terbuka dan siap mengikuti kemanapun Roh Kudus menghantar kita.
Read More ..

Thursday, November 4, 2010

St Karolus Borromeus


St. Karolus BorromeusKarolus hidup pada abad keenambelas. Ia adalah putera seorang bangsawan Italia yang kaya. Sama seperti para pemuda kaya lainnya, ia bersekolah di Universitas Pavia. Tetapi, tidak seperti kebanyakan dari mereka, ia tidak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang mengundang dosa. Karolus terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi sungguh ia memperoleh kemajuan yang menggembirakan.

Usianya baru dua puluh tiga tahun ketika pamannya, Paus Pius IV, menyerahkan banyak tugas penting kepadanya. Karolus berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. Namun demikian, ia senantiasa cemas kalau-kalau ia semakin jauh dari Tuhan karena banyaknya godaan di sekelilingnya. Oleh sebab itulah, ia berlatih menyangkal diri terhadap segala kesenangan dan senantiasa berusaha untuk rendah hati serta sabar. Sebagai seorang imam, dan kemudian Uskup Agung Milan, St. Karolus menjadi teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar uang kepada kaum miskin. Ia sendiri hanya memiliki sehelai jubah lusuh berwarna hitam. Tetapi, di hadapan umum, ia berpakaian seperti layaknya seorang kardinal. Ia ambil bagian dalam upacara-upacara Gereja dengan penuh hormat dan wibawa.

Penduduk kota Milan mempunyai banyak kebiasaan buruk, mereka juga percaya takhayul. Dengan peraturan-peraturan yang bijakasana, dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, serta dengan teladan hidupnya sendiri yang mengagumkan, St. Karolus menjadikan keuskupannya teladan bagi pembaharuan gereja seluruhnya. Ia tidak pernah dapat berbicara dengan lancar - umat hampir-hampir tidak dapat mendengarkannya - namun demikian kata-kata yang diucapkannya menghasilkan perubahan.

Ketika suatu wabah ganas menyerang dan mengakibatkan banyak kematian di Milan, Kardinal Borromeus tidak memikirkan hal lain kecuali merawat umatnya. Ia berdoa dan bermatiraga. Ia membentuk kelompok-kelompok umat yang membantunya membagikan makanan bagi mereka yang kelaparan. Ia bahkan mendirikan altar di jalan-jalan agar orang-orang yang sakit itu dapat ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi lewat jendela rumah mereka. Orang besar ini tidak pernah terlalu sibuk untuk menolong rakyat sederhana. Suatu ketika ia menghabiskan waktunya untuk menemani seorang bocah penggembala hingga bocah tersebut dapat berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Menjelang ajalnya, pada usia empatpuluh enam tahun, St. Karolus dengan tenang dan damai berkata, “Lihat, aku datang!” St. Karolus Borromeus wafat pada tanggal 3 November 1584 dan dinyatakan kudus oleh Paus Paulus V pada tahun 1610.

“Kita perlu berdoa sebelum, selama dan sesudah melakukan segala sesuatu. Nabi mengatakan: `Aku akan berdoa, dan kemudian aku akan mengerti.' Inilah cara agar kita dapat dengan mudah mengatasi begitu banyak kesulitan yang harus kita hadapi dari hari ke hari, yang memang, adalah bagian dari hidup kita. Dengan doa kita menemukan kekuatan untuk menghadirkan Kristus dalam diri kita dan sesama.”
(www.yesaya.indocell.net)
Read More ..

Wednesday, November 3, 2010

St Martin de Porres


St. Martinus de PorresSt Martin de Porres dilahirkan di Lima, Peru pada tanggal 9 November 1579 sebagai anak tidak sah dari Juan de Porres, seorang ksatria Spanyol dari Alcantara, dengan Anna Velasquez, seorang budak mulatto (= peranakan Negro dan kulit putih) Panama yang telah dibebaskan. Martin mewarisi profil dan kulit gelap ibunya, sehingga menyedihkan hati ayahnya, sebab itu ayahnya meninggalkan Martin dan saudarinya. Anna Velasquez membesarkan putera dan puterinya dalam kemiskinan, sementara anak-anak juga harus banyak menderita cemooh dan ejekan orang karena terlahir sekaligus sebagai mulatto dan anak haram.
Kehidupan doa Martin kecil sungguh mendalam sejak masih muda usianya. Ia memiliki devosi yang kuat kepada Ekaristi Kudus dan Sengsara Tuhan kita. Martin terus berdoa untuk mengetahui apa yang dapat ia lakukan sebagai ungkapan syukur terima kasih yang luar biasa atas anugerah penebusan. Ketika usianya 12 tahun, Martin magang pada seorang tukang cukur-ahli bedah dan belajar ilmu pengobatan.


Pada usia 15 tahun, Martin mohon diperkenankan menjadi “pelayan” di Biara Rosario Dominikan di Lima, sebab ia beranggapan bahwa kerinduannya untuk menjadi seorang broeder adalah sesuatu yang terlalu muluk baginya. Sebagai pelayan, Martin dengan suka hati melakukan tugas-tugas yang paling rendah dan berat di biara. Ia melayani berbagai tugas - sebagai tukang cukur, perawat di rumah sakit, pengawas pakaian - juga tukang kebun dan penasehat. Ia merawat saudara-saudara yang sakit dengan penuh kasih dan perhatian yang besar, yang dilakukannya dalam kesahajaan. Reputasi Martin sebagai seorang yang pandai menyembuhkan penyakit segera tersebar luas. Ia merawat juga orang-orang sakit di kota, termasuk mereka yang terjangkit wabah, tanpa membedakan ras. Ia menjadi teladan besar dalam kerendahan hati dan tanda pengharapan bagi mereka semua yang dihinakan karena diskriminasi etnis ataupun ras.

Martin menyembuhkan orang-orang sakit melalui doa-doanya dan melalui pengetahuannya mengenai ilmu pengobatan. Tak terhitung banyaknya orang yang disembuhkan olehnya, termasuk seorang imam yang nyaris meninggal karena infeksi pada kakinya, dan seorang frater yang jari-jarinya terluka amat parah dalam suatu kecelakaan hingga nyaris pupus harapannya untuk ditahbiskan sebagai imam.

Setelah sembilan tahun mengabdi, akhirnya para superior memperkenankan Martin untuk menerima jubah broeder - sesuatu yang dianggap Martin sebagai terlalu luar biasa dan terhormat baginya - dan ia pun mengucapkan kaulnya.

Belas kasih Broeder Martin de Porres tak mengenal batas; ia membagi-bagikan sumbangan makanan dari biara (yang terkadang bertambah jumlahnya secara ajaib) kepada orang-orang miskin papa. Bagi anak-anak yang kurang mampu, Martin mendirikan rumah yatim piatu, rumah sakit kanak-kanak, juga lembaga pendidikan bagi mereka di mana mereka mendapatkan pendidikan yang layak dan belajar ketrampilan. Ia membangun suatu taman besar dengan pepohonan ara di dalamnya yang terbuka bagi semua orang yang membutuhkannya. Secara istimewa Martin melayani serta melindungi para budak yang didatangkan dari Afrika.

Martin tak pernah ragu membagi bilik kecilnya bersama mereka yang terlantar. Hal ini tampaknya menimbulkan masalah antara dirinya dengan para superior yang segera melihat biara mereka dipenuhi oleh orang-orang terbuang, yang seringkali bertingkah “aneh”. Tetapi, bagi Martin, belas kasihan jauh lebih penting nilainya daripada apapun dan ia tak pernah menolak untuk mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Ditegur karena membiarkan seorang yang amat dekil kotor tidur di atas pembaringannya, Martin menjawab, “Belas kasihan lebih penting daripada kebersihan. Dengan sedikit sabun aku dapat membersihkan tempat tidurku; tetapi renungkanlah betapa banyak airmata yang harus aku cucurkan guna membasuh bersih jiwaku dari noda keacuhan terhadap sesama.”

Broeder Martin melewatkan malam-malamnya dalam doa dan meditasi, matiraga dan puasa yang terus-menerus; ia dianugerahi penglihatan-penglihatan dan ekstasi. Di samping karunia-karunia ini, Martin juga dianugerahi karunia bilokasi; orang-orang yang mengenalnya dengan baik melihatnya di Meksiko, di Amerika Tengah dan bahkan di Jepang, sementara ia sendiri, secara jasmani, setelah masuk biara tidak pernah keluar dari Lima. Suatu ketika Martin bersama para novis sedang berpiknik penuh sukacita hingga lupa waktu. Tiba-tiba, begitu menyadari bahwa mereka akan terlambat untuk doa, Martin meminta mereka mengatupkan kedua tangan mereka. Sebelum mereka sadar akan apa yang terjadi, mereka semua telah berdiri di halaman biara, tanpa mampu menjelaskan bagaimana mereka dapat menempuh perjalanan beberapa mil jauhnya hanya dalam waktu beberapa detik saja.

Martin menembus pintu-pintu yang terkunci dengan cara yang hanya diketahui dirinya sendiri dan Tuhan. Dengan cara ini ia sekonyong-konyong muncul di sisi pembaringan mereka yang sakit tanpa diminta dan senantiasa menenangkan mereka yang sakit jika ia tidak menyembuhkan mereka sepenuhnya.

Bahkan binatang-binatang yang sakit datang kepadanya agar disembuhkan. Martin menunjukkan kendali yang luar biasa atas binatang-binatang itu; ia merawat dan memelihara mereka - memelihara dengan cara yang tampaknya tak dapat dipahami oleh orang-orang sekitarnya - sebab ia bahkan menaruh belas kasih kepada tikus-tikus juga, yang dibiarkannya mengorek-ngorek tanah ketika mereka lapar. Ia membuat rumah penampungan bagi banyak kucing dan anjing liar di rumah saudarinya. Martin memiliki cinta kasih yang luar biasa kepada segenap ciptaan. Ia merupakan inspirasi bagi mereka semua yang berkomitmen untuk melindungi ciptaan dan membela kehidupan dalam segala bentuknya.

Walau begitu banyak hal mengagumkan dalam dirinya, tetapi mungkin yang paling diingat orang tentang St Martin de Porres adalah kisahnya dengan para tikus. Dikisahkan bahwa kepala biara, seorang yang bijaksana, tidak suka pada makhluk-makhluk pengerat itu. Ia memerintahkan Martin untuk meracuni mereka. Martin taat, tetapi ia bersedih hati karena tikus-tikus itu. Maka, ia pergi ke kebun dan memanggil mereka dengan lembut - dan datanglah tikus-tikus itu. Martin menegur mereka karena perilaku mereka yang buruk; ia memberitahukan perihal racun itu kepada mereka. Lalu, ia meyakinkan mereka bahwa ia akan memberi mereka makanan di taman setiap hari, jika mereka tidak lagi mengganggu kepala biara. Para tikus setuju. Maka, Martin melepaskan makhluk-makhluk pengerat itu dan sesudahnya para tikus tak pernah lagi mengganggu biara.

Anak didiknya, Juan Vasquez Parra, menggambarkan Martin sebagai seorang yang cakap dan praktis. Ia sungguh pandai dalam mengelola sumbangan amal kasih, baik dana maupun barang-barang, yang dipergunakannya dengan cermat dan sistematis. Orang-orang terhormat di Lima datang untuk mohon bimbingan dan nasehatnya dalam masalah-masalah yang sulit.

Termasuk di antara para sahabatnya adalah St Rosa dari Lima dan Beato Yohanes Masssias, yang adalah seorang broeder di Biara Dominikan St Maria Magdalena di Lima. Walau Broeder Martin menyebut dirinya sendiri sebagai “anjing mulatto,” masyarakat menyebutnya sebagai “bapa belas kasih.” Mereka begitu menghormatinya hingga mereka mohon bimbingan rohani darinya, walau ia hanya seorang broeder.

St Martin de Porres wafat karena demam di Biara Rosario pada tanggal 3 November 1639. Raja muda Spanyol, bangsawan dari Chinchón, datang berlutut di sisi pembaringannya memohon berkat darinya. Para pejabat gereja dan para bangsawan menghantar jenazahnya ke makam.

Mukjizat-mukjizat menakjubkan, yang menyebabkan Martin disebut sebagai seorang santo bahkan sejak di masa hidupnya, terus berlangsung hingga hari ini melalui perantaraannya. Hidupnya adalah suatu doa terus-menerus yang panjang dan matiraga keras yang tak kunjung henti. Ia dijuluki “Santo Sapu” karena ia dengan suka hati melakukan pekerjaan-pekerjaan berat maupun tugas-tugas rendahan tanpa melewatkan satu saat pun persatuan dengan Tuhan. Belas kasih, kerendahan hati dan ketaatannya sungguh luar biasa.

Santo Martin de Porres dibeatifikasi pada tahun 1873 dan dikanonisasi pada bulan Mei 1962 oleh Paus Yohanes XXIII. Pestanya dirayakan pada tanggal 3 November.


Sumber : 1. “For All The Saints, by Katherine Rabenstein”; 2. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”


Read More ..

Monday, November 1, 2010

Mengapa Saya Harus Mengikuti Pelajaran Agama

Akan bagus sekali jika setiap bayi dilahirkan dengan satu set peraturan terikat di tangannya. Kita akan segera tahu apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup bahagia. Kita akan tahu betapa baiknya Tuhan itu. Kita akan tahu betapa Tuhan menghendaki kita hidup kekal dalam surga yang indah. Ah, sungguh menyenangkan sekali. Tetapi, yang terjadi tidaklah demikian. Kita dilahirkan tanpa pengertian sedikit pun tentang hal-hal demikian itu. Kita harus mempelajarinya dari orang lain. Orangtua kita adalah guru rohani kita yang pertama. Jika orangtua kita penuh kasih dan setia, kita akan dapat melihat bagaimana Tuhan itu melalui mereka. Namun demikian, akan tiba waktunya kita perlu tahu lebih banyak dari yang dapat mereka ajarkan. Kita pergi ke sekolah untuk belajar sejarah, ilmu pengetahuan serta ketrampilan agar kelak kita mempunyai kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang baik dan menjadi orang yang berguna. Agama harus dibagi bersama saudara-saudara yang lain agar dapat hidup! Agama adalah kegiatan sosial. Kita menimba iman dari kekuatan iman orang lain. Agama bukan hanya sekedar belajar mengenai informasi dan fakta. Kita wajib ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kelompok agar dapat sungguh-sungguh hidup religius. Yesus sendiri mengajarkan betapa pentingnya berbagi iman. Yesus membangun komunitas religius di dunia - yaitu Gereja Katolik - agar kita dapat saling berbagi iman.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Read More ..

Mengapa Kita Harus Pergi ke Gereja

Ketika kalian beranjak dewasa, kalian menjadi sadar bahwa kalian dapat dan harus mempunyai lebih banyak kebebasan untuk menentukan pilihan kalian sendiri. Sayang sekali, kalian tergesa-gesa ingin disebut mandiri, karenanya kalian kerapkali menolak pendapat atau pun norma-norma yang selama ini diterapkan oleh orangtuamu. Ini wajar, tetapi sesungguhnya tindakan seperti ini bukan tindakan yang cerdik. Kemungkinan kamu malah ikut membuang banyak hal-hal baik yang sepatutnya tetap kamu pegang. Orangtuamu menerapkan cara yang mereka pakai sekarang ini setelah mengalami begitu banyak pengalaman, termasuk yang menyakitkan. Mereka ingin menghindarkan kamu dari kemalangan yang pernah mereka sendiri rasakan.
Agama menjelaskan kepada kita mengapa kita ada di dunia ini serta seperti apa kehidupan kita kelak. Dalam agama kita menemukan kepercayaan serta tolok ukur yang pasti, yang demi membela kebenarannya banyak orang telah berjuang dan wafat. Iman menjelaskan tentang hidup dan bagaimana mendapatkan yang terbaik darinya. Setiap kali kamu berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut manusia, hal-hal yang buruk dapat saja terjadi. Gereja Katolik memiliki jaminan yang pasti untuk melindungi kamu dari hal-hal yang buruk itu. Perlindungan itu diberikan kepada kita dalam bentuk kredo (kredo = pokok-pokok iman) dan ajaran-ajaran dari Bapa Suci serta para Uskup, yang mereka terima dari Tuhan.

Salah satu gagasan yang terpenting adalah agama itu merupakan sesuatu yang kita lakukan bersama. Bukan pribadi, tetapi sosial. Dengan pergi ke gereja kita dapat selalu menjaga serta membina hubungan baik dengan saudara-saudara seiman. Kita memang boleh memiliki banyak kebebasan, tetapi kita akan semakin teguh jika kita bersatu.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Read More ..